Dia mendengar seru-Mu di subuh pagi
Saat ayam masih meringkuk sendiri
Sayangnya, dia tak peduli
Ditariknya selimut dari ujung kaki hingga kepala
Dan tertidur sampai matahari terik berseri
Dia mendengar suara-Mu di panasnya siang
saat burung membawa cacing-cacing ke sarang
Tetapi dia terus berdendang
Ikuti irama lagu dari radio dengan riang
hiraukan gema suara-Mu yang terngiang-ngiang
Dia selalu dengar panggilan-Mu di kelamnya malam
Ketika matahari dan bulan berganti posisi menurut aturan alam
Biarpun begitu…
Dia tetap terduduk diam berkonsentrasi dalam-dalam
Dan mata tak sedikitpun terpejam
Menatap dengan sangat tajam
Pada bintang-bintang televisi berlaga dengan segala kemewahan dan keindahan duniawi
Dia dengar seruan-Mu
Suara-Mu
Panggilan-Mu
Tetapi dia selalu pura-pura tidak dengar…