Oleh: namakutya | Mei 5, 2008

Dejavu

Aku… terkapar sendiri
Sepi… Gelap… Dingin… Sunyi
Selimuti jiwa dan raga
Panas bara api menjilat-jilat
Menghadangku sambil menari-nari

Siapa aku???

Dimana aku???

Ini adalah tempat asal mula kegelapan dan terang benderang
Tempat alam bawah sadar memainkan musiknya
Sesuatu yang tidak asing dalam ingatanku
Asing, asing, asing
Aku tahu… tapi aku tidak sadar…
Aku tidak ingat

Melayang-layang di udara…
Melihat! mendengar! mencium!
Lakukan sesuatu yang belum dan yang akan
Tanpa batasan waktu halangi langkah

Kutatap sekeliling…
Jiwaku… ragaku… batinku… hidupku
masa lalu dan masa depan
Berputar… berputar… dan terus berputar!
Dan…
Ketika mereka telah berhenti
Akhirnya kutatap
Sosok seseorang yang kukenal, kuakrab, kusayang
Terkapar terbujur kaku
Dalam balutan kain putih panjang
Menatap kosong mata itu
Kusadari…

Itu diriku…

Oleh: namakutya | April 30, 2008

biasa

biasa






biasanya, setiap bangun pagi dari tidurku
aku langsung masuk kamar mandi seperti biasa
basahi rambutku dan tubuh dengan sabun yang biasa
dan seselesainya pakai handuk biasa
lalu berpakaian dengan baju dan celana yang biasa
sudah itu menyiapkan sarapan yang biasa-biasa saja
nasi putih dengan telor ceplok berikut kecap merek biasa
dan masukkan makanan yang diangkut dengan sendok dari bahan biasa
kunyah perlahan dengan irama yang biasa
sayup lalu terdengar tukang koran meneriakkan koran yang biasa-biasa
kemudian aku beranjak dari dudukku ke depan tivi biasa kutatap
tekan tombol nyalakan tivi dengan jari telunjuk kanan seperti biasa
setelah itu cari saluran tivi yang biasanya
tak lama terlihat si Alfina Damayanti yang seperti biasa selalu segar di pagi hari
dengan manis menyiarkan berita yang ditelinga sangat tidak biasa
“Hari ini Amerika mulai menyerang Afghanistan dengan rudal yang luar biasa besarnya”
tapi lucunya komentar Amerika biasa-biasa saja
katanya, serangan ini merupakan hal yang biasa
dan Afghanisthan harus terbiasa
aku yang mendengar berita luar biasa itu
tersenyum dengan sinis seperti biasa
karena Amerika telah membunuh banyak warga biasa

Oleh: namakutya | April 30, 2008

Tuuuuuut….

Tatkala kutatap diriku

Kulihat hati disayat sembilu

Saksikan hari-hari berlalu

Hingga penantian,

Aku tak tahu

Tatap dunia ini dengan wajah hampa
Digelayuti awan-awan hitam berlaga
Jarum menusuk-nusuk tanganku yang rapuh
Tanpa henti alirkan hidup ke tubuh

Lihat!
Selang-selang itu…
Jarum-jarum itu…
Lihat!

Kutunggu mata menutup
Nantikan saat bertemu Yang Kuasa
Rebahkan tubuh tanpa paksa
Ikhlas terasa…
Untuk tinggalkan diri dan hidup

Dengar!
Benda-benda itu
Alat-alat itu…
Dengar!

Tuuuuuuuuuttt…

Oleh: namakutya | April 30, 2008

Dia mendengar

Dia mendengar seru-Mu di subuh pagi
Saat ayam masih meringkuk sendiri
Sayangnya, dia tak peduli
Ditariknya selimut dari ujung kaki hingga kepala
Dan tertidur sampai matahari terik berseri

Dia mendengar suara-Mu di panasnya siang
saat burung membawa cacing-cacing ke sarang
Tetapi dia terus berdendang
Ikuti irama lagu dari radio dengan riang
hiraukan gema suara-Mu yang terngiang-ngiang

Dia selalu dengar panggilan-Mu di kelamnya malam
Ketika matahari dan bulan berganti posisi menurut aturan alam
Biarpun begitu…
Dia tetap terduduk diam berkonsentrasi dalam-dalam
Dan mata tak sedikitpun terpejam
Menatap dengan sangat tajam
Pada bintang-bintang televisi berlaga dengan segala kemewahan dan keindahan duniawi

Dia dengar seruan-Mu
Suara-Mu
Panggilan-Mu

Tetapi dia selalu pura-pura tidak dengar…

Oleh: namakutya | April 29, 2008

Kepakan Sayap

Ketika langit tunjukkan ruh-Nya
Merpati bentangkan sayap-sayap halus
Tinggalkan kekasih setia sendiri
Dalam genangan gerimis rintik hujan

Dan saat Sang Bintang turuni khayangan
Begitu lemah lembut tinggalkan harumnya surgawi
Tak terasa sudah Sang Dewi tersenyum
Gulirkan air mata mutiara

Kepakan sayam merpati yang tertiup oleh angin
Semakin lama membumbung tinggi
Arungi lautan langit membiru
Tatap kekasih yang menjauh…

Tunggu.. dan tunggulah…
Sampai merpati katupkan sayap
Sampai Sang Bintang tegakkan kepalanya
Sampai rintik yang terakhir…

Lihatlah Sang Surya mengulum senyum
Dan bunga-bunga bermekaran di musim semi
Seperti hati yang damai berseri bahagia
Saksikan kepakan sayapmu turun ke bumi
Jemput kekasih dan impian
Dalam suratan abadi…

Oleh: namakutya | April 29, 2008

Tentang aku

aku adalah aku
aku tidak serupa denganmu
aku tidak sama denganmu
karena aku… ya aku!

aku suka apa yang kamu suka
tapi kadang aku tidak suka kesukaanmu
dukamu bisa jadi sukaku
sukamu juga bisa jadi dukaku
walaupun begitu,
apapun yang terjadi,
aku tetap suka-suka

sungguh!
aku tidak bermaksud untuk sakiti kamu
dengan tajamnya lidahku
juga dengan kerasnya ucapanku
tapi satu hal saja yang aku mau tanya sama kamu:
apakah kamu tahu siapa aku?

Oleh: namakutya | April 29, 2008

Kusebut nama-Mu

Terduduk aku di padang rumput ini

yang terhampar luas hingga ke kaki bukit

dan dengan kedua bola mataku

aku menatap alam yang berseri dibawah mentari

hasil karya-Mu yang terindah…

Kulihat ilalang tersenyum padaku

bergoyang-goyang, menari-nari

diiringi nyanyian angin yang bertiup

dan ketika Kau melintas melewatiku

kucoba menjaring hembusan nafas-Mu

yang menyisir perlahan lagi lembut pada rambutku

hingga nafas-Mu kembali bercambur dengan oksigen

juga unsur-unsur kimia di udara…

Kucoba pula kejar langkah-langkah kaki-Mu

berjalan seiring waktu yang tak pernah bosan berjalan

dan kucoba menyaring irama suara-Mu

suara yang sudah lama aku tunggu

karena lewat pita suara-Mu,

tercipta alunan melodi-melodi indah

hingga hati siapa yang tak bergetar mendengarnya

Ada senyum yang terkulum di bibir-Mu

saat kutangkap tubuh-Mu

yang penuh dengan aroma harumnya surgawi

lewat telingaku… kudengar…

Kau bisikkan kata-kata mesra padaku

Dan ketika Kau berjalan mendekat kepadaku

pegang hangat tanganku, remas erat jariku

berikan kesempatan langka untukku

mengecap… merasa… merindu… indahnya surga-Mu

hingga terasa semakin bergetar hati ini

Dan dari degup-degup kencang jantungku

yang berpacu seiring metabolisme tubuh

kusebut selalu nama-Mu yang agung…

dan selalu kupesankan pada burung-burung

yang terbang riang, bebas di udara…

untuk membawa suaraku setinggi-tingginya ke langit

hingga Engkau kan mendengarnya…

Oleh: namakutya | April 29, 2008

Hidupku

Ketika dia bertanya kepadaku apalah artinya kehidupan…Aku hanya bisa mendesah, menggelengkan kepala, dan dengan perlahan aku katakan…

Hidup adalah penantian

Hidup adalah kepakan sayap-sayap untuk terbang tinggi

Hidup adalah bunga yang mekar harum mewangi

Hidup adalah seonggok pohon yang rapuh tertiup angin

Dan saat ia tanyakan padaku apakan tujuan hidup yang selama ini dijalaninya… Aku hanya bisa ucapkan…

Hidup untuk mendapatkan keindahan surgawi…

Hidup untuk bertahan dari segala rintangan

Hidup untuk bersihkan pikiran

Hidup untuk raih yang terbaik…

Hidup untuk teteskan air mata kesedihan

Hidup untuk keceriaan tiada tara

Hidup untuk bertemu dan kemudian berpisah

Dan berpisah untuk bertemu kembali

Hidup untuk kembali bersatu dengan Yang Khalik

Apalagi yang dapat aku katakan saat ia tanyakan kepadaku kenapa aku juga hidup, sama seperti dirinya…

Aku tak dapat berkata apa-apa… Aku hanya tersenyum mendengarnya dan seiring dengan itu, air mataku mengalir bagaikan anak sungai yang tak tertahankan. Dan lidahku mulai bergerak… patah demi patah kata kuucapkan dengan perlahan… tenang… damai…

Akhirnya hanya dapat kujawab…

Hidupku untukmu

Oleh: namakutya | April 28, 2008

Mata

Mata ini sayu sendu

telas habiskan seluruh malam

untuk menangis kepada-Mu

diatas sajadah bututku

dan akui dosa-dosa laknatku

tetapi kenapa

hingga sekarang

air mata yang telah kubendung

belum juga bisa

menghanyutkan diriku

untuk menatap-Mu

Oleh: namakutya | April 28, 2008

Sajadah bisu

Saat basuh diriku

dengan sejuknya aliran air suci

bersihkan debu-debu benci

hingga cairkan hati yang dingin membeku

Tertatap di depan mataku

sehampar sajadah tak bicara

tempat biasa aku mengaku pada-Mu

selaga laku berumur masa

Dan kukenakan kain panjangku

tutupi sekujur tubuhku dari aurat

berdiri di atas sajadah bisu

bisikkan doademi doa yang merangkak perlahan

iringi hatiku menembus langit ketujuh

Aku merunduk pasrah

saat pujian mulai melantun dari bibir kering ini

tak terasa air mata menganak sungai di pipi

ketika kusadari senyum-Mu merekah

Aku bersujud di hadapan-Mu

dan kening ini rasanya tak ingin lepas

dari sajadah panjangku yang bisu

bagian dari sisi hidupku

untuk mencintai diri-Mu

selama jiwa masih bisa bernafas…

Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.